TELAGA BENING

3 10 2007

Indah. Desa yang indah. Begitu kata semua orang yang pernah menginjakkan kaki di desa itu. Sebuah desa kecil dipinggir kota yang terkenal hiruk pikuknya. Desa yang masih tetap tenang meski 25 KM dari desa ini, kota yang tak pernah tidur bisa dijumpai. Desaku dikepalai oleh seorang dukuh yang sangat suka dengan pohon. Ia akan sangat marah apabila melihat anak-anak bermain dengan mematahkan ranting-ranting pohon.

Jagalah pohon anak-anak. Lindungilah ia sehingga ia juga akan melindungimu jika sudah besar nanti. Pohonnya akan kokoh, dan ia akan membantumu menjadi bahagia menjalani hari-harimu. Begitu selalu dikatakannya kepada anak-anak. Ia selalu melarang orang-orang kampung menebangi pohon jika tidak sangat diperlukan. Terutama sekali pohon-pohon yang ada disekeliling telaga di desa kami.

Telaga yang menawan. Pasti siapapun akan mengatakan demikian. Anak-anak suka bermain di telaga itu. Telaga Bening namanya. Sekelilingnya teduh sehingga ikan-ikan suka mencari makan di pinggir-pinggirnya. Anak-anak akan membawa jala mainan untuk menangkapnya. Kadang, anak-anak akan kena bentak orang yang sedang memancing, diminta jangan membuat keributan di sekitar tempatnya memancing. Mereka akan berlarian menjauh sambil tertawa-tawa. Yang agak pemberani akan menjulurkan lidahnya, masih sambil berlari menjauh, mengejek orang yang menghalaunya tadi.

Ibu-ibu juga suka ke telaga membawa barang-barang rumah tangga yang kotor untuk di cuci. Pakaian, tikar, bahkan sampai alat-alat penggorengan semacam wajan, dan panci. Meski begitu, air telaga tak menjadi kotor. Berubah warna pun tidak. Apalagi berbau. Telaga Bening, tetap bening sebening sebelum-sebelumnya. Masih banyak orang-orang yang suka memancing, masih banyak anak-anak yang suka bermain, mencari ikan, dan setelah lelah, menjeburkan diri berenang menikmati segarnya air Telaga Bening.

Begitulah mimpiku,” Ayah. Ujar seorang anak yang tergeragap bangun dari tidur karena dikejar ikan besar ketika berenang di air yang tenang menyegarkan. “Itu, masa kecilku,” desah si ayah lirih hampir tak terdengar. “Tidurlah lagi, Nak.” Biar mimpimu yang indah berlanjut. Katanya dalam hati.

Banyak orang-orang yang datang untuk melepaskan kesuntukan ke desa itu. Orang-orang desa menyambut mereka dengan ramah-tamah. Mereka menyediakan tempat menginap seadanya. Juga menjual es kelapa muda yang banyak peminatnya. Semakin lama semakin banyak yang datang. Remaja putri yang suka membuat jepit rambut, sandal, dan orang-orang kampung yang pintar membuat lukisan dan pernak-pernik macam-macam menjualnya kepada orang-orang yang datang itu. Tak ketinggalan ibu-ibu memasak makanan desa yang bagi orang-orang yang datang ternyata menarik dan disukai. Jika pulang, mereka akan membeli dua-tiga benda dan membawanya sebagai cindera mata yang didapat dari kampung kami, cindera mata yang dijual di sepanjang jalan menuju Telaga Bening.

Suatu hari, Pak dukuh yang pecinta pohon jatuh sakit. Ia memang sudah tua. Semua orang kampung bersedih. Ia tak juga kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal dunia. Wasiatnya hanya satu, sayangilah pohon-pohon. Begitu kata keluarga yang menunggui selama sakitnya. Itu dikatakannya berulang-ulang sampai meninggalnya.

Ia kemudian digantikan oleh dukuh baru. Orangnya masih muda. Dulu tinggal di kota. Pernah sekolah di universitas. Belum lama ia jadi dukuh, ia sudah berani menebang banyak pohon, hal yang tidak dilakukan oleh dukuh sebelumnya. Pertama-tama, ia menebangi pohon untuk memperluas jalan desa. Biar mobil-mobil bisa jalan dari dua arah, katanya. Tidak harus salah satunya menepi dulu baru mobil bisa lewat.

Warga desa diminta untuk kerja bakti memberi bebatuan di atas jalan tanah itu. Ia kabarkan bahwa nanti akan datang bantuan aspal untuk membuat jalan itu jadi licin dan tidak becek jika hujan. Desa itu konon akan dijadikan desa wisata. Desa tempat orang-orang kota berlibur jika sedang tidak masuk kerja.

Ia juga memerintahkan penebangan pohon untuk memperluas jalan yang menuju tepi Telaga Bening. Orang-orang kampung dengan enggan melaksanakan perintahnya. Orang-orang tua di kampung masih mengingat wasiat mendiang dukuh yang melarang pohon-pohon ditebang. Mereka khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi jika penebangan pohon berkelanjutan.

Tidak lama kemudian aturan baru dikeluarkan. Anak-anak tidak boleh lagi bermain ditelaga. Perempuan-perempuan juga tidak boleh mencuci macam-macam di telaga. Orang-orang yang mau memancing harus membayar terlebih dahulu. Sekarang, sekeliling telaga diberi pagar kawat berduri. Orang tidak bisa lewat kecuali melalui pintu yang di jaga di mana mereka harus membayar.

Sekeliling telaga juga diperbagus. Dibuat jalan setapak yang dikonblok sepanjang tepinya. Rumah makan dan tempat menginap berdiri di tepi-tepi telaga. Orang-orang desa tidak ada yang tahu bangunan-bangunan itu milik siapa. Orang-orang yang ada di sana, warga desa tidak mengenalnya.

Desa itu sekarang terkenal ke mana-mana. Sebagai desa tujuan wisata. Warga desa bangga meski dirasa tak memiliki apa-apa. Yang mereka anggap sebagai kepunyaan hanyalah sepetak kecil sepanjang jalan menuju telaga. Tempat yang dengan setia mereka isi dengan pernak pernik kecil dan beragam cindera mata.

Desa yang dulu mengalir pelan dan tenang kini terkesan terburu-buru. Terkejar oleh deru mobil dan tergeragap oleh hingar bingar musik yang pasti ada setiap minggunya. Entah dua kali entah entah tiga kali. Setiap harinya dirasa sama oleh warga desa. Gerah.

Tibalah saatnya musim penghujan. Masa yang tak juga menyurutkan pengunjung yang datang ke desa itu. Minggu pertama hujan turun disertai angin yang kencang. Tak pernah warga menjumpai hujan yang anginnya sekencang itu. Mungkin dahulu tak terasa karena terhalang oleh pohon-pohon yang berdempetan tumbuhnya. Batangnya besar dan kokoh seolah raksasa yang siap menghadang apa saja yang bermaksud memporak-porandakan isi desa.

Warga desa dihantui kekhawatiran. Pada suatu malam yang juga diwarnai hujan dan angin kencang kekhawatiran semakin memuncak. Malam itu hujan diselingi petir yang seolah melecuti apa saja yang tanpa perlindungan. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Di rumah masing-masing keluarga berkumpul dan berharap semoga hujan segera reda dan angin selekasnya menyusut.

Malam berlalu tanpa ada kegegeran. Sebelum fajar, hujan dan angin sudah tak bersisa. Penduduk satu perasatu keluar rumah. Bermaksud menengok tempat mereka biasa berjualan. Begitu tahu kondisi tempat itu, mereka terkejut. Sungguh di luar prasangka mereka. Kondisi rumah mereka baik-baik saja, namun sepanjang tepi jalan yang lurus ke arah sungai porak poranda. Rumah-rumah kecil ambruk terseret beberapa meter dari tempatnya semula berdiri. Benda-benda kecil tak bersisa diterbangkan angin.

Pohon di kanan kiri jalan tumbang. Akarnya muncul ke permukaan. Menyisakan retak-retak pada jalan aspal yang belum lama berselang dibangun. Berarak mereka menuju ke tepi sungai. Semua bangunan yang sebagian besar terletak di sebelah selatan sungai tak ada bekasnya. Bahan-bahan bangunan yang tak tenggelam di air kadang muncul kadang tenggelam di telaga yang kini tak bening lagi seperti namanya.

Pagar kawat utara telaga ambruk. Yang ada di timur dan barat, sekiranya tersenggol sedikit saja, niscaya tak bisa disebut pagar lagi. Konblok di sekeliling sungai sudah bermunculan berbongkah-bongkah di atas tanah. Terinjak dan masuk lagi ke dalam tanah tak tertata oleh kaki-kaki warga desa yang ingin tahu dan berbondong-bondong datang ke tepi Telaga Bening.

Warga desa tertegun. Tak menyangka akan terjadi peristiwa semacam itu di desanya. Tiba-tiba terdengar suara yang seolah kaget. Suara perempuan. Istri Pak Dukuh. Ia baru sadar bahwa suaminya tidak ada. Suaminya tidak pulang tadi malam sewaktu terjadi hujan dan angin kencang. Ia hanya bersama anak-anaknya yang masih kecil berada di rumah. Ia juga tak tahu ke mana suaminya pergi. Mungkin semalam ada di salah satu rumah di tepi telaga itu seperti biasanya.

Warga desa gempar. Tanpa dikomando mereka segera menyisir telaga. Mencari Pak dukuh jikalau ada di antara reruntuhan yang morat-marit. Namun, pencarian mereka sia-sia. Bangunan yang tersisa ditepi telaga tak seberapa banyak. Sebagian besar puing bangunan masuk ke telaga. Ada yang mencoba-coba mengudak telaga dengan menggunakan kayu yang panjang. Namun tak juga Pak Dukuh ditemukan. Orang-orang yang mungkin ada di rumah-rumah di tepi telaga itu juga tidak kelihatan. Tetapi para warga juga tidak tahu, siapa saja mereka dan pendatang dari mana. Mereka tak pernah lagi mencapai tepian telaga semenjak telaga itu dipagar kawat berduri.

Warga desa yang dituakan berkumpul. Mereka bersepakat untuk mengeluarkan puing-puing bangunan dan apa saja yang masuk ke telaga sambil mencari Pak Dukuh yang disangka berada direruntuhan di dalam telaga. Anak-anak muda dan lelaki warga desa yang masih kuat dan berani diminta untuk membantu. Mereka melakukan penyisiran dari bagian selatan telaga, di mana banyak reruntuhan yang ambruk ke situ.

Bahan bangunan yang terapung-apung diangkat terlebih dahulu. Ditumpuk dipinggiran telaga. Botol-botol minuman yang belum dibuka dilempar-lemparkan ke luar telaga oleh anak-anak kecil yang dulu biasa bermain di telaga. Diam-diam mereka juga ikut-ikutan masuk ke telaga dan sambil bermain-main mereka membantu melemparkan ke tepian telaga benda apa saja yang mereka temukan. Tak ada yang melarang.

Seharian mereka bekerja di telaga. Tengah hari istirahat sebentar untuk makan. Mereka mulai lagi hingga matahari hampir tenggelam. Pinggiran telaga sudah penuh dengan benda-benda dari dalam telaga, namun tak dijumpai adanya mayat manusia seorangpun. Hanya bahan bangunan yang mereka temukan.

Warga desa pulang. Hari sudah malam. Dan meskipun mereka masih mencoba mencari besok harinya, Pak Dukuh tetap tidak ditemukan. Air telaga juga tak kunjung pulih warnanya. Telaga Bening tinggallah nama. Airnya kini keruh kemerahan. “Ayah, ayo tidur,” rengek suara bocah. “Oh, aku melamun,” desah si ayah lirih dan merebahkan tubuhnya.

Penulis : Asih Nuryanti (Mahasiswa Sastra Indonesia FBS UNY)

Alamat : Papringan, Jalan Ori 2, 16 C, Yogyakarta

No rekening : BNI no Rek 0123290122 a.n Asih Nuryanti

 

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: